Archipelago Of Indonesian Cultural Show di ASVS 2019 Oleh Sanggar Cipta Budaya

Pada penghujung bulan Oktober ini, Sanggar Tari Cipta Budaya Cipadu pimpinan Ilham Riyanto atau yang lebih akrab disapa Mas Ilham ini mendapat kesempatan menampilkan pertunjukan yang berjudul “Archipelago Of Indonesia Cultural Show”.

Acara ini merupakan rangkaian acara dari kongres ke 20 Asian Society for Vascular Surgery (ASVS) 2019, yang bersamaan dengan Asian Venous Forum yang ke 14 dan Indonesian Vascular Conference yang ke 10.

Pagelaran yang cukup megah ini diselenggarakan pada tanggal 25 Oktober 2019 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua Bali. Dalam pagelaran ini, ditampilkan tari-tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Indonesia bagian paling Barat berupa tari Ratoh Jaroe dari Aceh, sampai dengan Indonesia bagian timur, yaitu tarian dari Papua yang menggambarkan keindahan alam dan satwanya.

Gala Dinner ASVS 2019 di BNDCC Bali (Foto: Rey Janecekova)

Partunjukan tari Archipelago of Indonesia Cultural Show ini dikemas dengan cukup baik dan rapi. Ceritanya saling menyambung satu sama lain mengangkat cerita-cerita budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dimulai dengan tarian selamat datang diiringi dengan soundtrack dari film Moana yang berjudul “You’re Welcome” dari Dwayne Johnson, disusul kemudian dengan penampilan Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Melalui penampilan para Punokawan ini, disampaikan pesan betapa pentingnya kita sebagai bangsa Indonesia untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya Indonesia.

Setelah acara pemberian penghargaan terhadap pemerhati kebudayaan Indonesia, acara kemudian dilanjutkan dengan tarian yang menceritakan sejarah Sumpah Palapa. Kisah tentang Mahapatih Gajah Mada yang bersumpah tidak akan berhenti berpuasa sebelum bisa menyatukan Nusantara ini dilanjutkan dengan tarian Gending Sriwijawa dari Palembang.

Penampilan tarian Gending Sriwijaya yang dibawakan dengan lemah gemulai oleh enam orang penari tersebut kemudian dilanjutkan dengan tarian yang cukup energik dari Betawi. Pada sesi tarian ini, ditampilkan pula sepasang ondel-ondel ke atas panggung. Didukung dengan warna warni kostum yang dipergunakan oleh penarinya, sesi tarian Betawi ini menjadikan acara terasa energik dan lebih hidup.

Penampilan tarian dari Betawi ini kemudian dilanjutkan dengan tarian yang berasal dari Banyumas. Pada tarian ini ditampilkan juga dua penari yang menggunakan topeng Barong. Dibawakan dengan apik dan penuh penghayatan. Mencerminkan keragaman budaya Indonesia.

Jaka Tarub Dancers behind the scene (Foto by: Rey Janecekova)

Acara yang cukup meriah malam itu dilanjutkan dengan sendra tari Jaka Tarub. Jaka Tarub menceritakan tentang tujuh bidadari yang turun dari kayangan untuk mandi di mata air. Saat ketujuh bidadari tersebut bersenang-senang bermain di air, datanglah seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub yang takjub akan kecantikan para bidadari tersebut. Karena keinginan untuk memiliki salah satu bidadari tersebut, maka Jaka Tarub mencuri selendang milik salah satu bidadari tersebut yang bernama Nawang Wulan dan menyembunyikannya sehingga Nawang Wulan tidak dapat kembali ke Kayangan bersama teman-temannya.

Balada Cendrawasih Dance di Gala Dinner ASVS 2019 Bali Nusa Dua Convention Center, Bali (Foto by: Rey Janecekova)
Balada Cendrawasih Dance di Gala Dinner ASVS 2019, BNDCC Bali (Foto by: Rey Janecekova)
Balada Cendrawasih Dance di Gala Dinner ASVS 2019, BNDCC Bali (Foto by: Rey Janecekova)

Penampilan cerita Jaka Tarub kemudian dilanjutkan dengan cerita dari Indonesia bagian paling timur atau Papua dengan tarian berjudul “Tari Balada Cendrawasih”. Pada bagian ini diceritakan tentang kekayaan dan keindahan Papua yaitu Burung Cendrawasih. Tarian dari Papua ini menceritakan tentang burung-burung Cendrawasih yang berlompatan dari pohon ke pohon lainnya dengan riang dan suaranya yang sangat merdu. Sayangnya keindahan bulu burung Cendrawasih justru menjadi daya tarik tersendiri untuk para pemburu satwa. Mereka membunuh burung-burung Cendrawasih jantan yang terkenal dengan bulunya yang lebih indah tersebut untuk dijadikan hiasan.

Hal tersebut menjadikan burung Cendrawasih yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua dan juga kebanggaan Indonesia terancam punah. Dalam tarian tersebut digambarkan tentang kepala suku Papua yang memperingatkan masyarakat untuk berhenti memburu Cendrawasih dan bersama-sama menjaga kelestariannya.

Sape, alat musik tradisional Dayak (Foto by: Rey Janecekova)
Tari Saman dari Aceh (Foto by: Rey Janecekova)

Setelah penampilan musisi yang menampilkan permainan alat musik dari suku Dayak yang bernama “Sape” yang mengiringi dua orang penari, pertunjukan ditutup dengan penampilan tarian dari Indonesia bagian paling Barat, atau Aceh. Dari Indonesia bagian Barat ini menampilkan tarian Ratoh Jaroe yang ditarikan oleh anak-anak usia SD dan SMP dengan kostum khas Aceh yang sangat khas dengan hiasan keemasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *