Bank Sampah GUSLING, Peduli Lingkungan Sambil Menabung

Masalah sampah adalah merupakan masalah untuk kita semua. Setiap orang setiap hari menghasilkan sampah yang dapat mencemari lingkungan. Apabila tidak kita kelola dengan baik, sampah akan dapat menimbulkan penyakit bagi orang-orang sekitar yang terpapar oleh sampah tersebut. Selain itu juga lingkungan akan terlihat kotor.

Ternyata permasalahan sampah ini juga menjadi permasalahan yang cukup serius di Kelurahan Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan.

Dan pada tahun 2016 lalu, karang taruna kelurahan Guntur mengajukan kerjasama dengan CSR Allianz untuk masalah pengelolaan sampah. Setelah dilakukan survey oleh pihak CSR Allianz, tentang apa kebutuhannya, didapati memang permasalah di Guntur adalah masalah pengelolaan sampah.

Pada pertemuan kedua, dibentuklah kepengurus GUSLING (Guntur Sadar Lingkungan) yang terdiri dari ibu-ibu PKK, pengurus RT dan karang taruna, dengan ketuanya dari karang taruna.

Secara resmi Bank Sampah GUSLING berdiri pada tanggal 23 September 2016, dengan ketuanya Rr. Diah Kartika Erawati.

Sejak awal hingga terbentuknya kepengurusan Bank Sampah Gusling, pihak Allianz sangat membantu semua keperluan untuk terbentuknya bank sampah ini. Dari mulai pembentukan pengurus, pengadaan buku besar, buku tabungan dan segala keperluan manajemen untuk bank sampah.

 

Hadiah yang diberikan oleh Allianz dan Gusling kepada peserta Sweat Challenge Zero Waste (Foto: Gusling)

 

Tabungan dari bank sampah sampai saat ini belum dikelola oleh bank tetapi masih dikelola oleh manajemen bank sampah itu sendiri. Semuanya masih di catat secara manual. Masyarakat menyetorkan sampah, hasilnya di konversikan ke uang dan dicatat di buku tabungan.

Saat berdiri pertama kali nasabah harus menabung selama 3 bulan, dikarenakan pada awal terbentuknya bank sampah Gusling belum memiliki cukup dana. Setelah berjalan selama 3 bulan, nasabah sudah bisa mulai mengambil tabungannya kapan saja, tanpa harus menunggu selama 3 bulan.

Mekanisme untuk menjadi nasabah bank sampah Gusling adalah dengan cara mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah menurut kategori yang ditentukan, kemudian sampah tersebut di setorkan kepada bank sampah Gusling yang diadakan seminggu sekali, dan dari jumlah sampah yang disetor dikonversikan ke dalam rupiah yang akan dicatat ke dalam buku tabungan nasabah. Bank sampah Gusling kemudian akan menyetorkan sampah-sampah tersebut ke bank sampah induk. Di seluruh Jakarta ada 5 bank sampah induk. Bank sampah induk tersebut sampai saat ini juga merupakan pengepul sampah mandiri.

Bank sampah induk untuk wilayah Jakarta Selatan bernama Bank Sampah Induk “Gesit” yang berlokasi di samping kelurahan Menteng Atas. Jadi bank sampah Gusling adalah bank sampah yang paling dekat ke bank sampah induk Gesit.

Sampai saat ini, semua system tabungan masih menggunakan system manual, yaitu nasabah menyetorkan sampah yang sudah di pilah berdasarkan kategori-kategori yang sudah ditentukan, Gusling menimbang sampah tersebut dan mengkonversikannya ke dalam bentuk uang yang akan langsung di catat nominalnya ke dalam buku tabungan nasabah. Tetapi kedepannya, semua bank sampah di Jakarta ini akan bekerjasama dengan BNI. Jadi nasabah akan otomatis dibuatkan tabungan di BNI dengan menggunakan ATM BNI. Dan fungsi bank sampah juga akan sekaligus menjadi agen untuk BNI. Jadi nasabah bisa membuka tabungan, melakukan setoran dan pembayaran tagihan-tagihan melalui agent di bank sampah setempat. Dan nasabahpun bisa mengambil tabungannya melalui atm.

Untuk mendorong nasabah agar rajin melakukan setoran sampah, gusling mengadakan lomba setiap bulannya dan memberikan apresiasi kepada nasabah yang rajin. Nasabah paling rajin di Guntur bisa menabung sampai dengan 500 ribu rupiah perbulan. Ada salah satu nasabah yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, dan tabungannya hanya diambil pada saat Lebaran untuk pulang kampung. Jadi nasabah tersebut bisa memiliki tabungan yang cukup untuk besar nilainya.

Pemilahan botol plastik pada acara Sweat Challenge Zero Waste Allianz (Foto: Gusling)

Ada sekitar 30 jenis varian sampah yang dapat disetor ke bank sampah. Ada yang namanya Putihan, yaitu berupa kertas putih, boncos yang merupakan sampah potongan-potongan kertas, duplek seperti snack box, botol plastic, gelas kemasan air mineral, botol kemasan air mineral, botol beling, stoples kristal, aluminium, besi, kaleng dan lain-lain.

Fungsi bank sampah pada dasarnya adalah sama dengan fungsi pengepul sampah pada umumnya. Tetapi untuk harga pembelian sampah memang masih lebih rendah dari pengepul sampah karena penyetorannya melalui beberapa tahapan. Sementara untuk pengepul biasanya mereka bisa langsung melakukan penjualan ke pengolahannya.

Program bank sampah adalah merupakan kegiatan resmi yang sudah tercatat di Sudin Lingkungan Hidup. Kegiatan bank sampah ini ternyata mampu mendorong masyarakat untuk mengumpulkan sampah. Bahkan di wilayah Guntur yang merupakan wilayah yang tergolong elit dimana bank sampah  Gusling ini berada, warga sekitarannya tidak segan-segan untuk mengumpulkan sampah dan menyetorkannya ke bank sampah Gusling. Sampai-sampai ada seorang ibu yang bekerja sama dengan sekolah anaknya untuk mengumpulkan sampah disekolah tersebut dan menyetorkannya ke bank sampah Gusling. Rata-rata mereka sudah menyadari bahwa sampah juga memiliki nilai jual dan juga  kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Setiap kelurahan di Jakarta diwajibkan memiliki bank sampah. Dan sampai saat ini sudah ada sekitar 300 bank sampah diseluruh wilayah DKI. Target dari pemerintah DKI yang ingin dicapai adalah, seluruh bank sampah yang ada dapat mengurangi sampah sebesar 15% dari sampah yang ada di tempat pembuangan akhir Bantar Gebang.

Sebenarnya bank sampah Gusling sendiri mempunyai rencana untuk melakukan pengolahan sampah basah menjadi kompos. Bahkan para pengurusnya sudah mendapatkan training dari pihak pendukung, yaitu CSR dari Allianz. Tetapi sampai saat ini hal tersebut belum dapat diwujudkan karena kurangnya pelaksana untuk mengelola pengolahan kompos tersebut.

Karang taruna Guntur yang di ketuai oleh Rr. Diah Kartika Erawati ini, melalui kegiatan bank sampah Gusling sudah berhasil menjadi juara pertama Karang taruna dari tingkat kecamata, propinsi bahkan menempati tempat ke 7 untuk tingkat Nasional.

Bank sampah Gusling saat ini sudah dijadikan percontohan bagi bank sampah-bank sampah lainnya. Jadi saat ini bank sampah Gusling sering di undang untuk memberikan paparan materi tentang bank sampah. Dan karena bank sampah Gusling ini merupakan pilot project dari CSR Allianz, maka setiap minggu Gusling menjemput sampah yang berasal dari kantor Allianz yang dikumpulkan oleh karyawan-karyawan Allianz. Jadi semua  karyawan Allianz di kantor tersebut juga menjadi nasabah bank sampah Gusling.

Pendaftaran dan penukaran botol plastik pada acara Sweat Challenge Zero Waste Allianz (Foto: Gusling)

Dan pada acara Sweat Challenge Zero Waste dari Allianz yang diadakan di Ancol bulan Oktober yang lalu, bank sampah Gusling juga turut berpartisipasi dengan melakukan pengumpulan sampah di tempat acara tersebut. Para pengunjung yang menyetorkan sampah berupa botol plastik diberikan berbagai macam merchandize dari Allianz sesuai dengan jumlah sampah yang disetorkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *