Simulasi Bencana Pada Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Di Graha BNPB

AnaKa, Jakarta. Asap tebal memenuhi lantai 10 gedung BNPB pada jam 10:00 pagi, 26 April 2018. Suara sirine tanda bahaya berbunyi nyaring. Terlihat di halaman gedung para karyawan dan pengunjung gedung tersebut berhamburan keluar. Anak-anak balita dari playgroup di lantai 2 dan para penyandang disabilitas tuna rungu yang berada di lantai 3 juga turut di evakuasi.

Rambu-rambu Bencana (Foto: Rey Janecekova)

Tak lama berselang, dua unit mobil Damkar diikuti dengan ambulance datang dan berusaha memadamkan asap yang membumbung di lantai 5 dan lantai 10. Suasana di halaman gedung Graha BNPB pagi itu terlihat tegang. Para petugas melakukan pengecekan orang-orang yang keluar dari gedung itu dan berusaha mendata berapa orang yang sudah keluar dan berapa orang yang masih berada didalam.

Beberapa menit kemudian, diketahui ada 5 orang korban yang masih terjebak di lantai 10, salah satunya adalah Kepala BNPB, Bapak Willem Rampangilei. Akhirnya dengan bantuan team dari Pemadam Kebakaran, para korban, termasuk Kepala BNPB diselamatkan dengan cara menuruni lantai 10 dengan tali atau yang biasa disebut Rappelling.

Begitulah suasana pada saat pelaksanaan kegiatan Simulasi Evakuasi Mandiri Serentak yang dilaksanakan di Graha BNPB, Jalan Pramuka Kav. 38, Jakarta Timur pada tanggal 26 April yang lalu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana yang dilaksanakan secara serentak diseluruh Indonesia.

Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada tanggal 26 April setiap tahunnya ini bertepatan dengan 11 tahun momen bersejarah kesadaran masyarakat Indonesia tentang Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana di Graha BNPB (Foto: Rey Janecekova)

Tujuan dari adanya Hari Kesiapsiagaan Bencana ini adalah untuk membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana. Mengapa diperlukan adanya kesiapsiagaan dari masyarakat terhadap bencana?

Seperti kita tahu, negara kita, Indonesia adalah merupakan negara yang dikelilingi oleh gunung-gunung berapi yang aktif atau dikenal dengan Sabuk Api, terdiri dari kepulauan baik besar maupun kecil dan memiliki wilayah laut yang luas. Dengan kondisi seperti yang kita miliki sekarang ini, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi bencana yang besar.

Berdasarkan survey yang dilakukan di Jepang setelah kejadian gempa Great Hanshin Awaji 1995, persentase korban yang selamat pada saat kejadian adalah 34.9% dikarenakan kesiapsiagaan diri sendiri, 31.9% karena dukungan anggota keluarga, 28.1% karena dukungan teman atau tetangga, 2.60% karena dukungan orang lewat, 1.70% karena bantuan dari regu penolong dan 0.90% karena sebab lain-lain. Berdasarkan data tersebut, BNPB menyimpulkan bahwa Kesiapsiagaan masyarakat akan bencana sangat diperlukan.

Untuk mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi bencana, maka pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018 ini secara serentak dilakukan simulasi bencana di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 10:00 pagi sampai dengan jam 12:00 siang.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat akan tahu upaya-upaya seperti apa yang harus dilakukan agar dapat selamat dan menyelamatkan orang lain dalam kondisi bencana.

“Jadi, apa yang sebenarnya menjadi sasaran strategic utama dalam konteks penanggulangan bencana ini. Yaitu menciptakan budaya sadar bencana. Ini yang paling penting Tanpa adanya kesadaran, maka tidak mungkin kita dapat menyelamatkan semua orang dari ancaman bencana itu sendiri. Nah, budaya sadar bencana ini harus dibangun secara terus menerus dalam rangka mewujudkan bangsa Indonesia yang tangguh menghadapi bencana. Ini merupakan hal yang sangat penting yang harus kita capai bersama, kita tau bahwa  Indonesia adalah salah satu negara yang paling rawan bencana”, ucap bapak Willem dalam konferensi pers yang dilakukan di Graha BNPB sesudah pelaksanaan simulasi proses evakuasi bencana.

Kesiapsiagaan Bencana di gedung Graha BNPB (Foto: Sam)

Dalam kesempatan itu juga ditegaskan bahwa latihan proses evakuasi becana seperti ini tidak dapat hanya dilakukan sekali saja, tetapi juga harus dapat dilaksanakan secara rutin. Dalam konteks kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, BNPB mengharapkan HKB dilakukan oleh semua pihak setiap tahunnya sebagai latihan bersama evakuasi bencana. Hal ini merupakan upaya untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan masyarakat sehingga mereka mengenal ancaman resiko disekitarnya, sehingga mereka akan mampu mengelola informasi perigatan dini, memahami rambu peringatan serta mengurangi kepanikan dan ketergesaan saat evakuasi yang biasanya justru akan menimbulkan korban.

Pada konferensi pers yang juga dihadiri oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Widjaja mengatakan ” Kesiapsiagaan individu dan keluarga menjadi begitu penting mengingat faktor yang paling menentukan untuk keselamatan diri dari potensi bencana adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki oleh diri sendiri”. Wisnu juga menegaskan bahwa rencana kesiapsiagaan yang disusun harus dikomunikasikan dengan anggota keluarga dirumah, kerabat yang ada dalam daftar kontak darurat, serta mempertimbangkan sistem yang diterapkan lingkungan sekitar dan pihak yang berwenang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *